Posted by: Flora_Fauna on: Juni 10, 2008
2000
Cacing tanah termasuk hewan tingkat rendah karena tidak mempunyai tulang belakang (invertebrata). Cacing tanah termasuk kelas Oligochaeta. Famili terpenting dari kelas ini Megascilicidae dan Lumbricidae. Cacing tanah bukanlah hewan yang asing bagi masyarakat kita, terutama bagi masyarakat pedesaan. Namun hewan ini mempunyai potensi yang sangat menakjubkan bagi kehidupan dan kesejahteraan manusia.
Sentra peternakan cacing terbesar terdapat di Jawa Barat khususnya Bandung – Sumedang dan sekitarnya.
Jenis-jenis yang paling banyak dikembangkan oleh manusia berasal dari famili Megascolicidae dan Lumbricidae dengan genus Lumbricus, Eiseinia, Pheretima, Perionyx, Diplocardi dan Lidrillus.
Beberapa jenis cacing tanah yang kini banyak diternakkan antara lain: Pheretima, Perionyx dan Lumbricus. Ketiga jenis cacing tanah ini menyukai bahan organik yang berasal dari pupuk kandang dan sisa-sisa tumbuhan.
Cacing jenis Lumbricus rubellus memiliki keunggulan lebih dibanding kedua jenis yang lain di atas, karena produktivitasnya tinggi (penambahan berat badan, produksi telur/anakan dan produksi bekas cacing “kascing”) serta tidak banyak bergerak
Dalam bidang pertanian, cacing menghancurkan bahan organik sehingga memperbaiki aerasi dan struktur tanah. Akibatnya lahan menjadi subur dan penyerapan nutrisi oleh tanaman menjadi baik. Keberadaan cacing tanah akan meningkatkan populasi mikroba yang menguntungkan tanaman. Selain itu juga cacing tanah dapat digunakan sebagai:
Pembuatan kandang sebaiknya menggunakan bahan-bahan yang murah dan mudah didapat seperti bambu, rumbia, papan bekas, ijuk dan genteng tanah liat.
Salah satu contoh kandang permanen untuk peternakan skala besar adalah yang berukuran 1,5 x 18 m dengan tinggi 0,45 m. Didalamnya dibuat rak-rak bertingkat sebagai tempat wadah-wadah pemeliharaan. Bangunan kandang dapat pula tanpa dinding (bangunan terbuka).
Model-model sistem budidaya, antara lain rak berbaki, kotak bertumpuk, pancing bertingkat atau pancing berjajar.
Persiapan yang diperlukan dalam pembudidayaan cacing tanah adalah meramu media tumbuh, menyediakan bibit unggul, mempersiapkan kandang cacing dan kandang pelindung.
Bahan yang tersedia terlebih dahulu dipotong sepanjang 2,5 cm. Berbagai bahan, kecuali kotoran ternak, diaduk dan ditambah air kemudian diaduk kembali. Bahan campuran dan kotaran ternak dijadikan satu dengan persentase perbandingan 70:30 ditambah air secukupnya supaya tetap basah.
Keberhasilan beternak cacing tanah tidak terlepas dari pengendalian terhadap hama dan musuh cacing tanah. Beberapa hama dan musuh cacing tanah antara lain: semut, kumbang, burung, kelabang, lipan, lalat, tikus, katak, tupai, ayam, itik, ular, angsa, lintah, kutu dan lain-lain.
Musuh yang juga ditakuti adalah semut merah yang memakan pakan cacing tanah yang mengandung karbohidrat dan lemak. Padahal kedua zat ini diperlukan untuk penggemukan cacing tanah. Pencegahan serangan semut merah dilakukan dengan cara disekitar wadah pemeliharaan (dirambang) diberi air cukup.
Dalam beternak cacing tanah ada dua hasil terpenting (utama) yang dapat diharapkan, yaitu biomas (cacing tanah itu sendiri) dan kascing (bekas cacing). Panen cacing dapat dilakukan dengan berbagai cara salah satunya adalah dengan mengunakan alat penerangan seperti lampu petromaks, lampu neon atau bohlam. Cacing tanah sangat sensitif terhadap cahaya sehingga mereka akan berkumpul di bagian atas media. Kemudian kita tinggal memisahkan cacing tanah itu dengan medianya.
Ada cara panen yang lebih ekonomis dengan membalikan sarang. Dibalik sarang yang gelap ini cacing biasanya berkumpul dan cacing mudah terkumpul, kemudian sarang dibalik kembali dan pisahkan cacing yang tertinggal.
Jika pada saat panen sudah terlihat adanya kokon (kumpulan telur), maka sarang dikembalikan pada wadah semula dan diberi pakan hingga sekitar 30 hari. Dalam jangka waktu itu, telur akan menetas. Dan cacing tanah dapat diambil untuk dipindahkan ke wadah pemeliharaan yang baru dan kascingnya siap di panen.
-
Perkiraan analisis budidaya cacing tanah di Bandung (Jawa Barat) pada tahun 1999 adalah sebagai berikut:
| 1. Modal Tetap | |||
| a. Sewa tanah seluas 200 m2/tahun | Rp | 120.000 | |
| b. Kandang pelindung:bahan bambu & atap rumbia | Rp | 150.000 | |
| c. Kandang ternak uk. 1,5×18 m2, tingi 50cm (11 bh) | Rp | 600.000 | |
| d. Media | |||
| Bahan Media 6 ton @Rp 100.000 | Rp | 600.000 | |
| Plastik 200m @Rp 1.600 | Rp | 320.000 | |
| Pelepah pisang | Rp | 25.000 | |
| Jumlah | Rp | 1.815.000 | |
| 2. Biaya Penyusutan | |||
| a. Sewa tanah | Rp | 40.000 | |
| b. Kandang pelindung | Rp | 16.667 | |
| c. Kandang ternak | Rp | 66.667 | |
| d. Media | |||
| Bahan media 6 ton | Rp | 300.000 | |
| Plastik 200m | Rp | 160.000 | |
| Pelepah pisang | Rp | 6.250 | |
| Jumlah | Rp | 589.584 | |
| 3. Modal Kerja | |||
| a. Bibit sebanyak 40 kg @Rp 200.000,00/kg | Rp | 8.000.000 | |
| b. Pakan – limbah sayur(petsai, mentimun) 5 ton @ Rp 500 | Rp | 2.500.000 | |
| c. Tenaga kerja 4 orang @Rp 100.000/bulan | Rp | 400.000 | |
| Jumlah | Rp | 10.900.000 | |
| 4. Jumlah Modal Kerja | |||
| a. Modal Tetap | Rp | 2.500.000 | |
| b. Modal Kerja | Rp | 10.900.000 | |
| Jumlah | Rp | 12.715.000 | |
| 5. Produksi /4 bulan | |||
| Selama 4 bulan 1600 kg @ Rp.210.000/kg | Rp | 336.000.000 | |
| 6. Biaya Produksi /4 bulan | |||
| a. Biaya penyusutan | Rp | 589.584 | |
| b. Modal Kerja | Rp | 10.900.000 | |
| Jumlah | Rp | 11.489.584 | |
| 7. Keuntungan /4 bulan | |||
| a. Produksi /4 bulan | Rp | 336.000.000 | |
| b. Biaya Produksi /4 bulan | Rp | 11.489.584 | |
| Jumlah | Rp | 324.510.416 | |
| 8. Breakeven Point | |||
| a. Keuntungan/4 bulan | Rp | 324.510.416 | |
| b. Biaya Produksi /4 bulan | Rp | 11.489.584 | |
| Jumlah |
Rp | 313.020.822 | |
| Keuntungan Bersih selama 4 bulan | Rp | 313.020.822 | |
| Untung Bersih Produksi Rp. 313.020.822/120 hr |
Rp | 2.608.506 | |
| BEP = Biaya Tetap [ 1 - (Biaya Penyusutan : Keuntungan)] = Rp. 1.815.000,00 [ 1 - (Rp. 589.584 : Rp. 324.510.416,-)] = Rp. 1.815.000,00 [ 1- 0.0018 ] |
|||
| Artinya tingkat hasil penjualan sebesar Rp. 1.811.733,00/4 bulan | |||
| 9. Tingkat Pengembalian Modal | |||
| Jumlah Modal Yang Diperlukan | |||
| Modal Kembali = | ——————————————— | x 1bulan | |
| (keuntungan + penyusutan) | |||
| = | 1,733 bulan atau 2 bulan dalam 1 kali Produksi | ||
| Jadi tempo yang diperlukan untuk menutupi kembali Investasi adalah dalam 1 kali panen atau 2 bulan. | |||
Cacing tanah merupakan komoditi ekspor yang belakangan ini mendapat respon yang besar dari para petani ataupun pengusaha. Hal ini disebabkan karena besarnya permintaan pasar internasional dan masih kurangnya produksi cacing tanah. Budidaya cacing tanah dapat memberikan hasil yang besar dengan penanganan yang baik.
Jakarta, Maret 2000
Sumber: Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas
Editor: Kemal Prihatman
Untuk lebih jelas bisa dilihat di : Berternak Cacing Tanah
bisaga ga bibit cacing itu di dapat dari kebun tapi tanah di kebun itu tanah liat warna ke coklat,
maf bisa ga makan cacing itu sisa sayu seperti ,wortel,kol,kubis,bayam dll
Thank infonya….ini yang aku cari.
mungkin yang dibutuhkan adalah,bagaimana menjualnya setelah panen.
apakah ada yang mau menampungnya, atau harus mencari pasar sendiri,
baik lokalan ataupun export,kalau ini tidak matang, sangat berbahaya, bukannya untung ,bisa bisa menjadi buntung.tapi biar gimanapun info ini sangat bagus untuk dipelajari dan dicermati,semoga bisa mengangkat derajat kita semua.
Prospek yg bgus.
Yg saya inginka pemasaran,trtma untuk bhan kosmetik.
Adakah yg minat
Kemanakah saya bs menghubungi untuk pemasarannya?
Budi daya cacing juga sangat menarik perhatian dan bagai mana mendapatkan bibit dan pemasarannya. mohon di bantu informasinya
Klo untk pemasaranny kmna y?
Ap ad yg nampung hasil budidayanya?
Sya ingin mencoba ternak cacing tanah tp mw cri bibitny dmna?
sangat menarik..tapi dimana saya bisa dapatkan bibit cacingnya?..berapa harga perkilonya?..bagaimana pemasarannya?..thanks..
menarik,,,
bagaimana dengan:
1. pemasarannya
2. bibit
3. jejaring pemasaran
tlong kasi info,,
saya tertarik untuk mengembangkan di bali,,
apa di bali sudah ada tempat pemasarannya?
thankz, mhon kerjasamanya,,
saya sangat tertarik.
bagaimana saya dapat:
1.mendapatkan bibitnya.
2.pemasarannya.
tolong kasih info untuk kerja samanya.
terima kasih
vicko solo jateng
tolong info lengkap;kelompok yg didaerah jakarta,penjualan,konsultasi masalah.bibit.kerjasama pembibitan,pemasaran. makasih
dimana ya cari buku tentang cacing tanah di surabaya…?
Agustus 14, 2008 pada 9:02 am
Informasinya sangat menarik, kalau ingin belajar praktek budidayanya di mana ya. apakah biaya ternak yang tertera tersebut sudah sesuai dengan kondisi yg sekarang…Bagaimana bila ingin belajar lebih banyak, walau saya tak punya latar belakang baik pendidikan maupun pengalaman dalam beternak cacing khususnya.